Laman

Sabtu, 21 Mei 2011

SISI TERANG SISI GELAP POSITIV DAN JELEK; SEMUA TENTANG AKU DARI KACAMATAKU

Dok.Pribadi
Hatiku ingin tegar
Segala kepositivan ku upayakan
Berbaik sangka
Berpikir positiv
Bekerja giat
Tekun
Ulet
Sabar
Dan satu hal lagi yang kumasukkan ke kepositivan
Berani menolak tugas yang tidak terlalu berkaitan denganku, meskipun banyak beranggapan bahwa itu tugasku.
Kadang ku lakukan juga, tidak menggubris tindakan orang yang ingin aku sibuk.
Aku harus tetapkan prioritas untuk tugas yang ku dahulukan, yang bisa ku tunda, dan yang harus ku tolak.
Hehehe…biarkan mereka anggap aku jelek, yang penting aku gembira
Apakah berani menolak tugas yang tidak terlalu berkaitan denganku, meskipun banyak beranggapan bahwa itu tugasku, itu positiv?
Apakah tidak menggubris tindakan orang yang ingin aku sibuk, itu positiv?
Apakah harus tetapkan prioritas untuk tugas yang ku dahulukan, yang bisa ku tunda, dan yang harus ku tolak, itu positiv?
Jawabannya, iya. Mengapa?
Ada banyak alasan bahkan apologi.
Karena aku insya Allah yang lebih paham yang terbaik menurutku, meskipun harus tetap memperhatikan saran, usul, masukan orang lain.
Karena aku secara fisik tidak sehat yang orang lain tidak semuanya mau memahami walaupun sudah ku jelaskan berkali-kali. Memang ada yang tidak ku beritahu atau ku beritahu sekali dua kali.
Karena sifat jelekku, sering menunda-nunda pekerjaan…hehehe…
Biarkan orang lain marah, jengkel, tidak suka kepadaku. Tapi inilah aku. Iya, sengaja aku tulis di sini seperti inilah diriku. Ini pun tidak semuanya kuungkap…
Gunanya ya katarsis. mengeluarkan unek-unekku. Aku hanya ingin berbagi sisi gelap diriku dan sisi terangku….
Tapi yang masih kuupayakan, aku tetap ingin menjadi orang baik, melakukan sikap, tindakan, dan perilaku positiv, dan segala kebaikan yang ada. Meskipun harus terjatuh bangkit terjatuh bangkit seperti itu terus. Kunamakan, berbuat baik semampuku dan yang aku bisa, insya Allah.

Kamis, 12 Mei 2011

IDEALISME: SEPENGGAL CURAHAN HATI

Dok. Pribadi

Kejujuran terkadang pahit. Idealisme pun terkadang pahit. Keduanya mewujud ke dalam satu prinsip yang kadang sulit dipahami oleh orang lain yang tidak mengikut sertakan kejujuran dan idealisme dalam hidupnya.
Ya, saya pernah mendengar hadits –yang saya belum mengetahui tingkat keshahihannya– bahwa kejujuran mendekatkan diri ke surga.
Ya, saya pernah mendengar hadits –yang saya belum mengetahui tingkat keshahihannya– bahwa katakanlah sesuatu dengan benar walaupun hal itu menyakitkan.
Saya sadar bahwa dalam tulisan inipun jujur saya akui terdapat hal-hal yang sengaja tidak diungkapkan karena hal itu menyangkut rahasia pribadi. Ya, karena saya pernah mendengar hadits –yang saya belum mengetahui tingkat keshahihannya– bahwa apabila seseorang menutupi aib saudaranya maka Allah SWT. kelak akan menutupi aib orang itu di akhirat.
Kemudian, saya mengakui pula bahwa selama beberapa tahun saya terbelenggu oleh ketidak jujuran dan penipuan diri dengan berpura-pura tidak apa-apa dalam menyikapi sesuatu padahal apa-apa. Begitu banyak kebohongan, kemunafikan, dan kepura-puraan yang saya sungguh tidak menyukainya. Namun demikian, saya harus terhempas arus deras itu hingga pada akhirnya saya dituduh munafik oleh orang yang sangat mengetahui definisi munafik.
Kini kesadaran itu muncul. Kesadaran yang walaupun membutuhkan waktu lama setelah saya bertahun-tahun “menikmati” kepura-puraan, namun saya dengan sadar memilih untuk mengurangi kepura-puraan itu, syukur dapat menghilangkannya. Semoga. Amin.